pengunjung

Showing posts with label Administrasi. Show all posts
Showing posts with label Administrasi. Show all posts

Sunday, 5 May 2013

Administrasi dan Administrasi Negara

Pengetahuan paling dasar saat saya kuliah di Jurusan Ilmu Administrasi Negara

Apa sih administrasi?

     Sering kita mendengar kata "administrasi" dalam kehidupan kita, baik saat mendaftar pekerjaan, mendaftar kuliah, dan mungkin sedang membuat KTP di kantor kelurahan. Administrasi identik dengan pembayaran keuangan. Padahal, pengertian dari administrasi sangatlah luas. Pandangan orang tentang administrasi adalah pengertian administrasi sempit. Administrasi berasal dari bahasa Belanda yaitu "administratie" yang artinya surat menyurat, catat mencatat, dan kegiatan lain yang terkait dengan ketatausahaan merupakan pengertian administrasi dalam arti sempit. Sedangkan secara luas, administrasi dapat diartikan sebagai proses kerjasama dua orang atau lebih untuk mencapai tujuan bersama. Jadi pandangan masyarakat yang melekat pada administrasi saat ini adalah pandangan administrasi dalam arti sempit.

Lalu, apa sih administrasi negara?

     Menurut saya administrasi negara adalah administrasi yang bertuuan untuk mewujudkan tujuan negara. Administrasi negara merupakan sebuah proses kerjasama aparatur pemerintah yang tersusun secara hierarkis dan berlandaskan hukum untuk mewujudkan tujuan negara. Administrasi negara menekankan proses pengorganisasian dan manajemen sumber daya agar efektif dan efisien. Seperti Dwight Waldo yang berpendapat bahwa administrasi publik adalah manajemen dan organisasi dari pada manusia-manusia dan peralatannya guna mencapai tujuan pemerintah.


Refresh complete!
:)

Friday, 3 May 2013

Pengkodean Buku Sederhana

Ini ilmu yang saya dapatkan dari teman saya, Tice. Pengetahuan ini saya dapat saat saya dan beberapa kawan saya sedang berusaha membangun taman bacaan sederhana di Desa Gunungjaya, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Katanya Tice adalah pengkodean buku untuk perpustakaan sederhana, metode yang mudah di mengerti oleh orang awam.

Langkah 1
Pilah bukunya! Pisahkan berdasarkan jenisnya, apakah jenis itu termasuk majalah, bacaan umum, anak-anak, maupun remaja. Terus, urutkan buku dari tahun tertua hingga termuda. Misalnya majalah Hai, dari edisi Januari sampai dengan Desember, diurutkan dari yang paling lama hingga yang paling baru.

Langkah 2
Kalo udah, buatlah klasifikasi jenis bukunya. Contohnya kayak yang ada di taman baca kami, yaitu:

100 : Kategori anak-anak
200 : Kategori remaja
300 : Kategori umum
400 : Kategori majalah

Kategori bisa lebih dirijitkan lagi,misalnya ada fiksi, non fiksi, sastra, dan sebagainya. Kami memakai metode sederhana karena memang perpustakaan kami jumlah bukunya masil belum banyak.

Langkah 3
Buat tempelan di buku berisi kode buku (pake label aja, ditempel di bukunya). Isi dari kode tersebut adalah Nama buku, pengarang buku, dan kode buku. Misalnya untuk buku novel Laskar Pelangi karangan Andrea Hirata:

L
HIR.201

atau

L
HIR-201

Langkah 4
Buatlah data base yang isinya tentang buku yang kita punya. Tujuannya agar kita dapat melihat dengan mudah jumlah buku, kondisi buku, buku keluar dan masuk, dan sebagainya.Buatlah data base se rijit mungkin agar memudahkan kita saat pengecekan. Data base dapat menggunakan komputer atau manual dengan buku, tergantung kemampuan sumber daya pengelola taman bacaan.

Segitu aja, mudah-mudahan bisa membantu, maaf jika penjelasan ngawur dan kurang jelas (maklum, bukan dari jurusan perpustakaan).
hahahaha,,

Thursday, 2 May 2013

Pendidikan di Hari Pendidikan Nasional

Mahasiswa pribumi memperingati Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2013

     Wajah pendidikan Indonesia tak ubahnya seperti sebuah topeng. Pendidikan di Indonesia belum menemukan wajah aslinya, terus melakukan pergantian tahun demi tahun. Alih-alih melakukan perubahan yang lebih baik, perubahan tersebut malah semakin menyulitkan masyarakat, baik itu yang terkait langsung dengan pendidikan maupun yang tidak. Banyak guru yang mengeluhkan bahwa sistem pendidikan yang berubah tiap tahunnya mempersulit dan tidak memberikan dampak yang efektif. Hasilnya ya seperti itu itu saja, yang berubah hanya statistik angka saja, tidak pada kualitasnya. Siswa juga menjadi bingung ketika dia harus menyesuaikan diri dengan kurikulum yang dirombak terus setiap tahunnya, padahal metode yang digunakan ya seperti itu itu saja, guru mengajar, murid mendengar, tugas, ujian, dan sebagainya. Sangat klasik.

     Menurut penilaian dari firma pendidikan Pearson, sistem pendidikan di Indonesia adalah salah satu yang terburuk di dunia. Rendahnya nilai yang didapat adalah karena rendahnya kualitas guru dan rendahnya kompetisi global. Tenaga guru yang bekerja di Indonesia dianggap memiliki kualitas yang rendah, namun dibayar dengan harga yang tinggi. Pemerintah menggelontorkan dana besar untuk belanja pegawai namun pengeluaran tersebut tidak sebanding dengan apa yang diharapkan terjadi. Rendahnya kualitas guru, serta minimnya fasiltas pendidikan membuat daya kompetisi global siswa menjadi rendah. Jika dibanding negara lainnya, seperti negara tetangga Malaysia dan Singapura, kualitas produk pendidikan Indonesia jauh lebih rendah.

     Meskipun pembaharuan terus dilakukan, tetapi pembaharuan tersebut malah memperumit apa yang sudah rumit. Jika perubahan dilakukan setiap tahun, apa yang terjadi jika civitas akademika tidak dapat beradaptasi? Pendidikan kacau, pelaksanaan carut marut, evaluasi tidak jelas. Yang terbaru adalah soal paket UN yang dibuat dua puluh paket. Ide yang sangat bagus untuk meningkatkan daya saing siswa dengan menekankan kejujuran. Namun aparatur pelaksananya tidak memiliki cukup kesiapan untuk melakukan itu. Alhasil banyak kasus terkait soal ujian seperti lembar soal yang terlambat datang dan kekurangan soal.

Soal UN sudah tidak lagi angker, coy dokumen rahasia milik negara di foto kopi.
ada ada aja.
:D

Wednesday, 1 May 2013

Paradigma Keseimbangan dan Ketidakseimbangan

Paradigma Keseimbangan

   Dalam proses pembangunan di Indonesia, masalah yang paling mendesak untuk diselesaikan adalah masalah pengangguran. Pengangguran tersebar merata baik di desa maupun di kota. Namun, ada perbedaan pengangguran yang terjadi di desa dan di kota. Pengangguran di desa tidak terlihat mencolok ditimbang pengangguran di kota yang tinggi. Namun angka kemiskinan di desa jauh lebih tinggi daripada di kota. Lalu mengapa itu bisa terjadi?
   Jawabannya adalah kondisi pengangguran di desa adalah tergolong pengangguran terselubung (disguise unemployment). Pengangguran ini tersamarkan, karena sebenarnya masyarakat desa bekerja, namun pekerjaan tersebut tidak mencukupi kebutuhan sehari hari-hari. Hal ini disebabkan ketidakseimbangan jumlah tenaga kerja yang ada dengan lahan pertanian yang terbatas. Keterbatasan menyebabkan penumpukan tenaga kerja sehingga upah tenaga kerja menjadi sangat rendah. Misalkan, tanah yang seharusnya digarap lima orang dengan upah per orangnya dua puluh ribu per hari, digarap oleh sepuluh orang yang menyebabkan upah dipotong lima puluh persen menjadi sepuluh ribu per orang. Mereka bekerja tetapi seolah seperti menganggur (melihat dari upah yang rendah).
   Berbeda dengan pengangguran dikota. Pengangguran di kota adalah pengangguran asli dan pengangguran tersebut tercatat oleh berbagaimacam survey. Pengangguran ini dapat dilihat kasat mata karena pengangguran ini adalah mereka yang benar-benar tidak bekerja. Pengangguran ini disebabkan karena ekspetasi yang tinggi yang diharapkan oleh masyarakat kota. Masyarakat kota tidak mau mengisi pekerjaan marjinal (seperti tukang sapu, office boy, dan pekerjaan rendahan lainnya). Keengganan ini menyebabkan kekosongan di pekerjaan marjinal.
   Melihat peluang tersebut, masyarakat desa bergerak menuju kota dengan invicible foot (faktor penarik urbanisasi). Masyarakat desa datang untuk mengisi pekerjaan marjinal yang tidak diisi masyarakat desa. Upah yang didapatkan merupakan upah minimum perusahaan kota, namun bagi masyarakat desa, upah tersebut sedikit lebih tinggi dari upah di desa. Sedangkan di desa, migrasi besar-besaran membuat upah di desa menjadi naik, karena jumlah tenaga kerja dan ladang seimbang. Dengan ini masalah pengangguran di desa teratasi.
   Karena perusahaan kota menggunakan dana yang minim untuk membayar pekerja marjinal, keuntungan yang didapatkan dapat digunakan untuk membuka investasi baru yang nantinya diharapkan mampu menyerap tenaga kerja di kota. Dengan ini, masalah pengangguran di kota terselesaikan.

Kritik Terhadap Paradigma Keseimbangan (Paradigma Ketidakseimbangan)

   Namun, paradigma tersebut tidak semudah yang dibayangkan. Ada beberapa kritik yang dapat dilontarkan yaitu:
1. Urbanisasi terus berjalan. Jika urbanisasi terus berjalan, akan ada penumpukan tenaga kerja di kota.
2. Standar pekerjaan di kota tinggi. Tidak semua masyarakat desa mampu masuk dan bekerja di kota meskipun pekerjaan marjinal sekalipun.
3. Orang desa yang datang ke kota adalah bukan orang yang sembarangan. Mereka memliki motivasi tinggi untuk mengais rizki di kota, bahkan bagi beberapa orang yang berlatar pendidikan tinggi mengincar posisi tinggi di perusahaan bonafit.
4. Tidak selalu dana lebih perusahaan digunakan untuk membuka investasi baru yang dapat menyerap tenaga kerja (gaya hidup hedonis).