pengunjung

Showing posts with label Perspektif. Show all posts
Showing posts with label Perspektif. Show all posts

Friday, 7 June 2013

Belajar Itu Lakukan, Bukan Katakan

     Mahasiswa adalah agen pembawa perubahan. Sejak pertama saya masuk, kalimat itu yang terus menerus saya dengar. Sejak Ospek mindset itu yang berusaha ditanamkan. Mulai dari teriakan terikaan, pemaparan masalah, dan arahan untuk melakukan sebuah kritisi terus dikenalkan. Dalam sebuah proses, kita dibentuk menjadi sebuah mesin kritik bagi pendapat seseorang. Pernah saya dengar dari perkataan seseorang yang dianggap dewa yaitu "yang penting beda dulu, kalo alesan nanti gampang" ditambah dengan senyum sinisnya. Apakah disitu letak perubahannya? Apakah itu akan menafikkan kebenaran dengan sebuah rasionalisasi?
     Ada gula pasti ada semut. Setiap aksi pasti ada sebuah reaksi. Semua tindakan yang diterapkan kepada mahasiswa baru berimbas pada karakter generasi tersebut. Dibiasakan dengan berpendapat tanpa ada tujuan sebagai "solutor", dilatih untuk menciptakan konflik tanpa adanya tujuan membangun, membuat mental yang tercipta adalah mental "knalpot bobokan" (wis seru, mbriski, asep tok, bantere juga ora sepiraha).
     Turut prihatin sebenarnya, mereka yang seharusnya merubah bangsa ini menjadi maju malah hanya bisa berbicara tanpa adanya aksi nyata. Beberapa hari ini, berapa orang datang kepada saya dan berkata "aku bingung soal ini" dan "aku nggak bisa soal itu". Aneh, mereka tahu apa yang mereka tidak mampu lakukan, tetapi mereka tidak belajar. Mereka tahu apa yang mereka tidak tahu, tapi mereka tidak berusaha mencarinya. Hanya sebatas kata kata mungkin sudah memberikan kepuasan. Sebagian hanya mengatakan ingin berubah, namun ya hanya formalitas saja. Sebuah renungan bagi kita semua, karena bertindak jauh lebih sulit dari pada berbicara. Tuhan menciptakan sepasang tangan sepasang kaki dan satu mulut, membuktikan bahwa kita diciptakan untuk lebih banyak bertindak daripada berbicara.

Indonesia butuh perubah, bukan pembawa perubahan (ngomong tok).

Kalo mau belajar ya lakukan, buakn katakan!

Wednesday, 22 May 2013

Begadang

"Begadang jangan begadang, kalo tiada artinya, begadang boleh saja kalu ada perlunya"

Sepenggal lagu dari bang haji tadi memang benar adanya,


         Huaaaaahhh, hidup saya sudah terbalik. Masa iya sih sekarang aku jadi suka melek malem malem kaya kalong. Dulu padahal nggak gini loh, dan itu semua berubah saat negara api menyerang (apa sih). Sejak sering ada tugas, banyak kegiatan di kampus, maen sama temen, bahkan menekuni hobi yang kadang emang bisanya digarap pas malem, membuat hidup saya nggak jelas gini. Jadi sering tidur pagi, dan sampai sekarang jadi kebiasaan.
         Dampak nyata yang saya rasakan setelah sering begadang adalah sering nyut nyutan kalo siang, ya anu mungkin anu kurang tidur kali ya. Badan juga jadi lemes, nggak semangat gitu. Malahan kadang sampe perlu kerokan gara-gara masuk angin.
     Selain itu mut juga jadi naik turun, emosian. Kalo habis begadang mau ngapa-ngapa jadi males, pengennya ya tidur. Kerja jadi kadang nggak beres, kuliah juga nggak fokus. Jalan sempoyongan, gleyengan, kunang-kunang (kurang tidur apa urung sarapan?)

         Selain itu, begadang juga mempengaruhi penampilan anda, muka jadi kusut (yang kusut tambah kusut). begadang itu lebih banyak buruknya dari pada manfaatnya, jadi kalo nggak perlu banget begadang, mending jangan, banyak resikonya bro!


Tapi kadang orang justru produktif saat malam hari (kaya saya),tapi ya baiknya jangan keseringan ya kasian badannya (kata cewek saya) :p

Benar atau Salah?


     Dalam hidup, jika kita mengenal kata "benar", maka kita pasti tau kata "salah". Benar dan salah tidak akan pernah dapat dipisahkan, kita tidak akan mengetahui sebuah kebenaran tanpa adanya kesalahan, dan sebaliknya. Namun dapat di temui di banyak kasus, ada istilah "kesalahan yan dibenarkan" bahkan sebaliknya.

     Sebenarnya kebenaran dan kesalahan suatu keadaan tidak dapat dinilai secara mutlak dalam kehidupan sosial. Berbicara kebenaran dan kesalahan terkait dengan etika. Seperti yang kita tahu, etika merupakan konsepsi baik atau buruk yang berlaku di masyarakat tertentu. Jadi menurut saya, kebenaran dan kesalahan itu sifatnya sangat subyektif sekali, dikatakan obyektif ketika ada sebuah kesepakatan yang mengatur kebenaran dan kebaikan tersebut, namun obyektifitas itu, juga merupakan subyektifitas.


Pusing? sama

     Kadang orang berfikir bahwa apa yang dia lakukan sudah benar namun ternyata salah. Kebenaran itu hanya berlaku dalam lingkungan awalnya saja, namun ketika masuk ke lingkungan baru dan sangat berbeda kebenaran itu bisa dapat berubah menjadi sebuah kesalahan. Seperti yang sudah saya bilang tadi, konsep baik dan benar itu ditentukan oleh sekelompok masyarakat dan berlaku dalam lingkup masyarakat tersebut.


     Jadi intinya berfikirlah matang sebelum kita bertindak, mungkin dapat menyakiti hati, mungkin dapat merubah keadaan, karena tidak semua yang kita pikirkan dapat diterima dengan mudah oleh orang lain.

Kalian yang telah memberiku kesempatan untuk belajar, terimakasih.

Wednesday, 15 May 2013

Etika?

Kemana etika anak muda sekarang ini? 

     Ya, terlintas hanya kalimat tersebut ketika melihat tingkah polah adik angkatan. Ya, memang sekarang jamannya kesetaraan, namun apakah kesetaraan akan melenyapkan rasa saling menghormati?
     Beberapa kejadian yang dapat dijadikan renungan, ketika kita berusaha menjadi mereka dan melebur bersama mereka. Itu menjadi sebuah romansa, namun itu juga dapat menjadi sebuah boomerang. Sebagai seorang kakak yang baik, saya hanya ingin mengayomi, namun reaksi yang diharapkan tidak sesuai. Beberapa memang masih tetap menghormati dan menghargai, namun sebagian tidak."maunya apa sih? dipelanin ngelunjak, dikerasin ngedrop."

Lalu ketika semua menginginkan kesetaraan, inikah yang dimaksud kesetaraan itu?
Kesetaraan yang melenyapkan etika dan budaya yang ada?

Thursday, 9 May 2013

Thank You Sir Alex!

"berhentilah saat kau berada di puncak kejayaan, maka kau akan menjadi orang yang dikenang"

      Era kepelatihan Sir Alex Ferguson akhirnya berakhir, setelah 26,5 tahun menukangi United. Berhentinya Fergie diumumkan secara resmi pada bulan Mei ini. Banyak pihak terkejut, sebagian sangat merasa kehilangan dan bahkan merasa tidak percaya. Hal ini terjadi karena pandangan bahwa United sudah sangat lekat dengan karakter Fergie, baik cara perekrutan pemain dan strategi. Bisa dikatakan MU adalah Ferguson, maka tidak mudah bagi seseorang untuk menggantikannya.
      Menukangi sebuah tim dalam jangka waktu 26,5 tahun jelas adalah waktu yang sangat panjang. Berbagai prestasi telah diraih baik domestik dan eropa, yang teranyar adalah gelar premier league yang ke 20 (13 kali saat berformat premiere league). "United akan melebihi dominasi Liverpool di Inggris", begitu ungkap Ferguson di awal kepelatihan di MU. Dan ketika semua terwujud, itulah saat yang tepat bagi Fergie untuk pensiun. 


Apapun pandangan terhadap kau, kau sudah memberikan tahun tahun terbaikmu dalan tim. Terimakasih opa Alex!
Glory Glory Manchester United!!!

Saturday, 4 May 2013

Karya Seni Hanya Butuh Apresiasi

     Seni adalah sesuattu yang indah. Seni bisa bermakna sedih, senang, gurau, gembira, cacian, umpatan, kemarahan, dan masih banyak lagi namun terbungkus oleh keindahan. Sebagian besar orang, menganggap bahwa seni adalah sebuah karya yang bagus. Namun, pada dasarnya, seni adalah segala sesuatu yang indah, dan keindahan itu tidak memiliki indikator yang sama. Karay seni dapat dinilai bagus oleh sekelompok oranh, namun tidak bagi yang lainnya. Oleh karena itu, seni menjadi sangat subyektif, seni tidak bisa dinilai secara obyektif.

     Menurut saya, karya seni adalah hasil jeri payah manusia yang dapat menyamankan penginderaan orang lain. Penginderaan yang dimaksud adalah pengelihatan, pengecapan, pendengaran, penciuman, dan perasaan. Ketika sebuah karya dapat menyamankan salah satu penginderaan tersebut, karya seni bisa dikatakan indah. Hal ini memberikan gambaran jelas bahwa seni membutuhkan apresiasi orang lain. Karya seni tidak bisa dinilai indah atau tidak jika tidak dilihat orang lain, seniman tidak bisa memberikan penilaian kepada hasil karyanya sendiri. Wujud penialaianpun bermacam-macam, dapat berupa komentar baik pedas atau pujian, acungan jempol, uang, dan bahkan penghargaan lainnya.

     Oleh karena itu, wahai seniman Indonesia, teruslah berkarya dan jangan pernah malu untuk menunjukkan karyamu. Namun harus tetap diingat, upaya untuk mendapatkan penilaian indah dari orang lain harus didapat dengan upaya sendiri. Itu menjadi hal yang sia-sia ketika karya yang kita buat hanya mengambil, menjiplak, dan mengakui hasil karya orang lain.

Masih bangga dengan plagiasi?
Bangun seniman Indonesia!!

Thursday, 2 May 2013

Pendidikan di Hari Pendidikan Nasional

Mahasiswa pribumi memperingati Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2013

     Wajah pendidikan Indonesia tak ubahnya seperti sebuah topeng. Pendidikan di Indonesia belum menemukan wajah aslinya, terus melakukan pergantian tahun demi tahun. Alih-alih melakukan perubahan yang lebih baik, perubahan tersebut malah semakin menyulitkan masyarakat, baik itu yang terkait langsung dengan pendidikan maupun yang tidak. Banyak guru yang mengeluhkan bahwa sistem pendidikan yang berubah tiap tahunnya mempersulit dan tidak memberikan dampak yang efektif. Hasilnya ya seperti itu itu saja, yang berubah hanya statistik angka saja, tidak pada kualitasnya. Siswa juga menjadi bingung ketika dia harus menyesuaikan diri dengan kurikulum yang dirombak terus setiap tahunnya, padahal metode yang digunakan ya seperti itu itu saja, guru mengajar, murid mendengar, tugas, ujian, dan sebagainya. Sangat klasik.

     Menurut penilaian dari firma pendidikan Pearson, sistem pendidikan di Indonesia adalah salah satu yang terburuk di dunia. Rendahnya nilai yang didapat adalah karena rendahnya kualitas guru dan rendahnya kompetisi global. Tenaga guru yang bekerja di Indonesia dianggap memiliki kualitas yang rendah, namun dibayar dengan harga yang tinggi. Pemerintah menggelontorkan dana besar untuk belanja pegawai namun pengeluaran tersebut tidak sebanding dengan apa yang diharapkan terjadi. Rendahnya kualitas guru, serta minimnya fasiltas pendidikan membuat daya kompetisi global siswa menjadi rendah. Jika dibanding negara lainnya, seperti negara tetangga Malaysia dan Singapura, kualitas produk pendidikan Indonesia jauh lebih rendah.

     Meskipun pembaharuan terus dilakukan, tetapi pembaharuan tersebut malah memperumit apa yang sudah rumit. Jika perubahan dilakukan setiap tahun, apa yang terjadi jika civitas akademika tidak dapat beradaptasi? Pendidikan kacau, pelaksanaan carut marut, evaluasi tidak jelas. Yang terbaru adalah soal paket UN yang dibuat dua puluh paket. Ide yang sangat bagus untuk meningkatkan daya saing siswa dengan menekankan kejujuran. Namun aparatur pelaksananya tidak memiliki cukup kesiapan untuk melakukan itu. Alhasil banyak kasus terkait soal ujian seperti lembar soal yang terlambat datang dan kekurangan soal.

Soal UN sudah tidak lagi angker, coy dokumen rahasia milik negara di foto kopi.
ada ada aja.
:D